Posted by Gede Mugi Raharja on 2008-03-07
Dalam melaksanakan Nyepi, pada intinya umat Hindu melaksanakan proses keagamaan untuk pembersihkan diri, alam semesta dan lingkungan, serta menempatkan makhluk alam bawah sesuai dengan tempatya. Lalu, apa konteks pantai, sungai, serta "pempatan agung" dalam perayaan Nyepi ini?
PADA Hari Raya Nyepi, umat Hindu melakukan kegiatan keagamaan berupa pengendalian api hawa nafsu (amati geni), tidak melakukan kerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak berhura-hura (amati lelangunan). Pada hari itulah umat Hindu melakukan instropeksi diri, perenungan diri dalam keheningan alam, untuk meningkatkan kualitas rohani.
Sebelum introspeksi dan perenungan diri di dalam "kesepian alam" dilakukan, pelaksanaan Nyepi didahului dengan proses mekiis/melis atau melasti ke laut. Kegiatan ini dilakukan tiga atau dua hari sebelum Nyepi, berupa kegiatan "pembersihan" benda-benda suci atau sakral pura yang dilakukan di laut. Dalam kegiatan ini semua umat Hindu dari berbagai desa adat melakukan prosesi iring-iringan (mekiis/melis) ke pantai terdekat, kemudian melakukan upacara "pembersihan" (melasti) benda-benda suci/sakral dengan air laut yang telah disucikan. Setelah melaksanakan persembahyangan, kemudian dilakukan lagi prosesi iring-iringan kembali ke pura.
Dalam hal inilah pantai sebagai ruang terbuka sangat diperlukan oleh umat Hindu untuk melakukan kegiatan religi. Laut bagi umat Hindu berfungsi sebagai pelebur atau pembersih segala kekotoran jasmani dan rohani. Di sinilah ber-stana Dewa Baruna, sebagai manifestasi Tuhan yang bertugas untuk menganugerahkan air suci (tirta) untuk membersihkan segala kekotoran jasmani dan rohani.
Selain itu, dalam prosesi upacara pembakaran jenazah (Ngaben), laut juga memiliki arti penting, sebagai tempat untuk menghanyutkan abu jenazah agar jiwa (atman) dari orang yang meninggal segera bersih dan unsur-unsur fisiknya segera bisa menyatu dengan unsur-unsur alam pembentuknya.
Oleh karena pantai sangat diperlukan oleh umat Hindu di Bali untuk kegiatan religi, maka apabila ada pantai diblokir oleh pemilik-pemilik hotel atas nama pariwisata, maka pasti akan terjadi masalah bila pihak pengelola atau pemilik hotel tersebut tidak menyediakan jalan alternatif menuju pantai. Karena itu, sudah seyogyanya sebelum hotel dibangun di tepi pantai, Pemda Bali harus memberi masukan kepada konsultan perencana dan pemilik hotel tersebut tentang arti penting pantai bagi umat Hindu di Bali.
Selain pantai, sungai juga memiliki arti penting bagi umat Hindu, terutama umat yang berada di pegunungan, dalam arti sangat jauh dari pantai. Maka pelaksanaan proses mekiis atau melasti dan upacara penghanyutan abu jenazah dalam prosesi upacara Ngaben, bisa dilaksanakan di sungai terdekat. Karena aliran sungai tersebut berhubungan dengan laut atau menuju laut, tempat stana Dewa Baruna yang bertugas membersihkan segala "kekotoran" jasmani dan rohani. Apabila aliran sungai tersebut di bagian hulunya memiliki percabangan atau bersumber dari dua aliran (campuhan), maka umat Hindu akan melakukan berbagai prosesi upacara keagamaan di bagian hilir dari percabangan aliran sungai tersebut. Dalam keyakinan Hindu, aliran sungai yang bersumber dari dua aliran di bagian hulunya, memiliki tata nilai paling suci. Sungai itulah yang paling baik difungsikan sebagai media pembersihan jasmani dan rohani.
Perempatan Jalan
Sehari sebelum perayaan Nyepi bertepatan dengan bulan mati (tilem) pada bulan kesembilan (kesanga) menurut perhitungan bulan Hindu (lunar system), umat akan melaksanakan upacara kurban ini ditujukan kepada mahluk-mahluk alam bawah (bhuta yadnya), agar tidak merusak atau mengganggu tatanan kehidupan di dalam kosmos. Pelaksanaan upacara kurban suci ini dilakukan sesuai dengan konsep Tri Hitakarana, untuk menjaga keselarasan (equilibrium) hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya, serta hubungan manusia dengan alam lingkungan dan mahluk-mahluk alam bawah yang ada. Upacara ini dilakukan bertahap dari tingkat negara, wilayah atau desa, banyak dan rumah tangga.
Pelaksanaan upacara Tawur Kesanga dilakukan di perempatan jalan pusat pemukiman (pempatan agung), karena dalam konsep ruang arsitektur tradisional di Bali, perempatan pusat pemukiman (desa) merupakan pusat persilangan orientasi religi sumbu bumi dan sumbu matahari yang setara dengan titik pusat koordinat yang memiliki nilai "nol". Konsep ruang dalam keyakinan Hindu, nilai "nol" tidak berarti kosong. Tetapi seperti buah kelapa kosong yang ada isinya (nyuh puyung sugih), atau seperti "manik ring cecupu" (isi dan wadahnya), terlihat kosong tetapi ada isinya. Konsep ruang ini sama dengan konsep Ketuhanan, "ada dan tiada" -- "ada" tetapi "tidak terlihat".
Dalam konteks ini, titik nol dalam konsep ruang tidak berarti kosong, tetapi bermakna "mahasempurna". Dalam konsep ini umat Hindu di Bali meyakini bahwa hal-hal yang bersifat merusak atau negatif akan menjadi netral (pralina) setelah diproses secara ritual di perempatan pusat pemukiman. Karena perempatan pusat pemukiman itu memiliki arti penting dalam kegiatan religi, maka dalam konsep ruang tradisional Bali, di masing-masing sudut perempatan tersebut, disediakan tanah kosong (karang tuang) seluas satu persil, yang berfungsi sebagai "ruang terbuka hijau" bebas bangunan.
Sistem Matahari-Bulan
Pelaksanaan Nyepi dikaitkan dengan perayaan Tahun Baru Saka. Perhitungan Tahun Baru Saka telah dimulai di India sejak penobatan Raja Kaniska I Pada 78 Masehi. Raja Kaniska I sangat menghargai tolerasi beragama, pandai dalam soal politik ketatanegaraan, budaya, ekonomi dan agama. Penanggalan tahun Saka ini diangkat dari kebiasaan rakyat taklukannya, yaitu suku bangsa Saka yang telah menggunakan penanggalan tahun Saka sejak 58 sebelum Masehi. Pelaksanaan Nyepi umat Hindu di Indonesia didasarkan pada "Surya Pramana", perhitungan posisi bumi terhadap matahari (solar system) terkait dengan iklim, dipadukan dengan "Chandra Pramana", perhitungan posisi bulan terhadap matahari dari bumi (lunar system). Berkaitan dengan perhitungan "Surya Pramana" tersebut, maka Nyepi secara umum dilaksanakan pada bulan Maret, yang merupakan bulan penting dan suci bagi umat Hindu. Disebut bulan yang penting dan suci karena Maret atau bulan ke-9 (sasih kesanga) menurut Hindu, merupakan bulan yang memiliki angka tertinggi dan spesifik. Sebab, berapapun dikalikan 9, hasil bila dijumlah akan menjadi sembilan.
Selain itu secara astronomi, pada bulan Maret matahari tepat berada di garis khatulistiwa, kemudian bergerak ke belahan bumi utara (utarayana) sampai 22 Juni di garis lintang 23,5ø. Selanjutnya matahari kembali berada di garis khatulistiwa pada bulan September dan bergerak lagi ke belahan bumi selatan (dakshinayana) sampai 22 Desember pada garis lintang 22,5ø. Dan pada Maret matahari kembali berada di atas garis khatulistiwa. Karena itulah Maret dipandang sebagai peristiwa penting dan suci bagi umat Hindu, sehingga upacara-upacara pensucian dilaksanakan pada Maret setiap tahun, pada saat matahari akan menuju utarayana.
Berkaitan dengan perhitungan "Chandra Pramana", pelaksanaan Tawur Kesanga perayaan Nyepi dilaksanakan pada saat bulan mati (tilem). Dan esoknya yang disebut "penanggal 1", mulailah dilakukan perhitung tanggal 1 dalam tahun baru Saka pada bulan baru sasih kedasa (bulan ke-10). Jadi dalam melaksanakan Nyepi, pada intinya umat Hindu melaksanakan proses keagamaan untuk pembersihkan diri, alam semesta dan lingkungan, serta menempatkan makhluk alam bawah sesuai dengan tempatnya.
Prosesi ini dimulai dari proses pembersihan jasmani dan rohani di laut, dilanjutkan dengan upacara kurban di perempatan pusat pemukiman, dan diakhiri dengan kegiatan rohani pengendalian diri untuk meningkatkan kualitas rokhani. Semua ini dilaksanakan agar kehidupan di bumi menjadi selaras, serasi dan seimbang, terbebas dari kebatilan, terbebas malapetaka dan kekacauan, sehingga umat manusia menjadi sejahtera sesuai dengan kosmologi Hindu.
Kebetulan setelah perayaan Nyepi tahun ini umat Hindu juga merayakan Hari Raya Saraswati dan Pagerwesi. Dekatnya rangkaian hari-hari raya ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi umat Hindu. Sebab Hari Raya Saraswati yang merupakan hari turunnya ilmu pengetahuan, akan menyadarkan uamt Hindu bahwa kesombongan diri dalam intelektual, maupun penyalahgunaan ilmu pengetahuan dan teknologi akan bisa merusak tatanan peradaban. Kemudian pada Pagerwesi yang secara harfiah berarti "pagar besi", umat Hindu diingatkan untuk selalu "memagari diri" dalam kerohanian agar unsur-unsur negatif tidak bisa masuk untuk mengotori diri dan merusak lingkungan di dalam kosmos.
sumber: BaliPost
Friday, March 21, 2008
Wednesday, December 12, 2007
Lirik Lagu KerisPatih "Tapi Bukan Aku"
jangan lagi kau sesali keputusanku
ku tak ingin kau semakin kan terluka
tak ingin ku paksakan cinta ini
meski tiada sanggup untuk kau terima
aku memang manusia paling berdosa
khianati rasa demi keinginan semu
lebih baik jangan mencintaiku aku dan semua hatiku
karena takkan pernah kau temui, cinta sejati
reff:
berakhirlah sudah semua kisah ini
dan jangan kau tangisi lagi
sekalipun aku takkan pernah mencoba kembali padamu
sejuta kata maaf terasa kan percuma
sebab rasa ku tlah mati untuk menyadarinya
semoga saja kan kau dapati
hati yg tulus mencintaimu
tapi bukan aku
repeat reff
Popularity: 24% [?]
Sumber: LirikLaguIndonesia.Net
Wednesday, November 28, 2007
Menjual Bed Cover dari Pasar Seni Sukawati Gianyar....hubungi 081933043641
Menerima orderan bed cover
Langsung diambil dari Produsen dari Pasar Seni Sukawati
Hubungi : 081933043641
Langsung diambil dari Produsen dari Pasar Seni Sukawati
Hubungi : 081933043641
Friday, November 23, 2007
Monday, November 19, 2007
3 PINTU KEBIJAKSANAAN
Seorang Raja, mempunyai anak tunggal yg pemberani, trampil dan pintar. Untuk menyempurnakan pengetahuannya, ia mengirimnya kepada seorang pertapa bijaksana.
"Berikanlah pencerahan padaku tentang Jalan Hidupku" Sang Pangeran meminta.
"Kata-kataku akan memudar laksana jejak kakimu di atas pasir", ujar Pertapa."Saya akan berikan petunjuk padamu, di Jalan Hidupmu engkau akan menemui 3 pintu.
Bacalah kata-kata yang tertulis di setiap pintu dan ikuti kata hatimu.
Sekarang pergilah sang Pertapa menghilang dan Pangeran melanjutkan perjalanannya. Segera ia menemukan sebuah pintu besar yang di atasnya tertulis kata "UBAHLAH DUNIA"
"Ini memang yang kuinginkan" pikir sang Pangeran. "Karena di dunia ini ada hal-hal yang aku sukai dan ada pula hal-hal yang tak kusukai. Aku akan mengubahnya agar sesuai keinginanku"
Maka mulailah ia memulai pertarungannya yang pertama, yaitu mengubah dunia. Ambisi, cita-cita dan kekuatannya membantunya dalam usaha menaklukkan dunia agar sesuai hasratnya. Ia mendapatkan banyak kesenangan dalam usahanya tetapi hatinya tidak merasa damai. Walau sebagian berhasil diubahnya tetapi sebagian lainnya menentangnya.
Tahun demi tahun berlalu. Suatu hari, ia bertemu sang Pertapa kembali.
"Apa yang engkau pelajari dari Jalanmu ?" Tanya sang Pertapa
"Aku belajar bagaimana membedakan apa yang dapat klakukan dengan kekuatanku dan apa yang di luar kemampuanku, apa yang tergantung padaku dan apa yang tidak tergantung padaku" jawab Pangeran
"Bagus! Gunakan kekuatanmu sesuai kemampuanmu. Lupakan apa yang diluar kekuatanmu, apa yang engkau tak sanggup mengubahnya" dan sang Pertapa menghilang.
Tak lama kemudian, sang Pangeran tiba di Pintu kedua yang bertuliskan "UBAHLAH SESAMAMU"
"Ini memang keinginanku" pikirnya. "Orang-orang di sekitarku adalah sumber kesenangan, kebahagiaan, tetapi mereka juga yang mendatangkan derita, kepahitan dan frustrasi"
Dan kemudian ia mencoba mengubah semua orang yang tak disukainya. Ia mencoba mengubah karakter mereka dan menghilangkan kelemahan mereka.
Ini menjadi pertarungannya yang kedua.
Tahun-tahun berlalu, kembali ia bertemu sang Pertapa.
"Apa yang engkau pelajari kali ini?"
"Saya belajar, bahwa mereka bukanlah sumber dari kegembiraan atau kedukaanku, keberhasilan atau kegagalanku. Mereka hanya memberikan kesempatan agar hal-hal tersebut dapat muncul. Sebenarnya di dalam dirikulah segala hal tersebut berakar"
"Engkau benar" Kata sang Pertapa. "Apa yang mereka bangkitkan dari dirimu, sebenarnya mereka mengenalkan engkau pada dirimu sendiri.
Bersyukurlah pada mereka yang telah membuatmu senang & bahagia dan bersyukur pula pada mereka yang menyebabkan derita dan frustrasi.
Karena melalui mereka lah, Kehidupan mengajarkanmu apa yang perlu engkau kuasai dan jalan apa yang harus kau tempuh"
Kembali sang Pertapa menghilang.
Kini Pangeran sampai ke pintu ketiga "UBAHLAH DIRIMU"
"Jika memang diriku sendiri lah sumber dari segala problemku, memang disanalah aku harus mengubahnya". Ia berkata pada dirinya sendiri.
Dan ia memulai pertarungannya yang ketiga. Ia mencoba mengubah karakternya sendiri, melawan ketidak sempurnaannya, menghilangkan kelemahannya, mengubah segala hal yg tak ia sukai dari dirinya, yang tak sesuai dengan gambaran ideal.
Setelah beberapa tahun berusaha, dimana sebagian ia berhasil dan sebagian lagi gagal dan ada hambatan, Pangeran bertemu sang Pertapa kembali.
"Kini apa yang engkau pelajari ?"
"Aku belajar bahwa ada hal-hal di dalam diriku yang bisa ditingkatkan dan ada yang tidak bisa saya ubah"
"Itu bagus" ujar sang pertapa. "Ya" lanjut Pangeran, "tapi saya mulai lelah untuk bertarung melawan dunia, melawan setiap orang dan melawan diri sendiri. Tidakkah ada akhir dari semuai ini ? Kapan saya bisa tenang ? Saya ingin berhenti bertarung, ingin menyerah, ingin meninggalkan semua ini !"
"Itu adalah pelajaranmu berikutnya" ujar Pertapa. Tapi sebelum itu, balikkan punggungmu dan lihatlah Jalan yang telah engkau tempuh".
Dan ia pun menghilang.
Ketika melihat ke belakang, ia memandang Pintu Ketiga dari kejauhan dan melihat adanya tulisan di bagian belakangnya yang berbunyi "TERIMALAH DIRIMU".
Pangeran terkejut karena tidak melihat tulisan ini ketika melalui pintu tsb.
"Ketika seorang mulai bertarung, maka ia mulai menjadi buta" katanya pada dirinya sendiri.
Ia juga melihat, bertebaran di atas tanah, semua yang ia campakkan, kekurangannya, bayangannya, ketakutannya. Ia mulai menyadari bagaimana mengenali mereka, menerimanya dan mencintainya apa adanya.
Ia belajar mencintai dirinya sendiri dan tidak lagi membandingkan dirinya dengan orang lain, tanpa mengadili, tanpa mencerca dirinya sendiri.
Ia bertemu sang Pertapa, dan berkata "Aku belajar, bahwa membenci dan menolak sebagian dari diriku sendiri sama saja dengan mengutuk untuk tidak pernah berdamai dengan diri sendiri. Aku belajar untuk menerima diriku seutuhnya, secara total dan tanpa syarat."
"Bagus, itu adalah Pintu Pertama Kebijaksanaan" , ujar Pertapa. "Sekarang engkau boleh kembali ke Pintu Kedua"
Segera ia mencapai Pintu Kedua, yang tertulis di sisi belakangnya "TERIMALAH SESAMAMU"
Ia bisa melihat orang-orang di sekitarnya, mereka yang ia suka dan cintai, serta mereka yang ia benci. Mereka yang mendukungnya, juga mereka yang melawannya.
Tetapi yang mengherankannya, ia tidak lagi bisa melihat ketidaksempurnaan mereka, kekurangan mereka. Apa yang sebelumnya membuat ia malu dan berusaha mengubahnya.
Ia bertemu sang Pertapa kembali, "Aku belajar" ujarnya "Bahwa dengan berdamai dengan diriku, aku tak punya sesuatupun untuk dipersalahkan pada orang lain, tak sesuatupun yg perlu ditakutkan dari merela. Aku belajar untuk menerima dan mencintai mereka, apa adanya.
"Itu adalah Pintu Kedua Kebijaksanaan" ujar sang Pertapa, "Sekarang pergilah ke Pintu Pertama"
Dan di belakang Pintu Pertama, ia melihat tulisan "TERIMALAH DUNIA"
"Sungguh aneh" ujarnya pada dirinya sendiri "Mengapa saya tidak melihatnya sebelumnya". Ia melihat sekitarnya dan mengenali dunia yang sebelumnya berusaha ia taklukan dan ia ubah.
Sekarang ia terpesona dengan betapa cerah dan indahnya dunia. Dengan kesempurnaannya.
Tetapi, ini adalah dunia yang sama, apakah memang dunia yang berubah atau cara pandangnya?
Kembali ia bertemu dengan sang Pertapa : "Apa yang engkau pelajari sekarang ?"
"Aku belajar bahwa dunia sebenarnya adalah cermin dari jiwaku. Bahwa Jiwaku tidak melihat dunia melainkan melihat dirinya sendiri di dalam dunia. Ketika jiwaku senang, maka dunia pun menjadi tempat yang menyenangkan. Ketika jiwaku muram, maka dunia pun kelihatannya muram.
Dunia sendiri tidaklah menyenangkan atau muram. Ia ADA, itu saja.
Bukanlah dunia yang membuatku terganggu, melainkan ide yang aku lihat mengenainya. Aku belajar untuk menerimanya tanpa menghakimi, menerima seutuhnya, tanpa syarat.
"Itu Pintu Ketiga Kebijaksanaan" ujar sang Pertapa. "Sekarang engkau berdamai dengan dirimu, sesamamu dan dunia" Sang pertapa pun menghilang.
Sang pangeran merasakan aliran yang menyejukkan dari kedamaian, ketentraman, yang berlimpah merasuki dirinya. Ia merasa hening dan damai.
sumber: Milis Cetivasi
"Berikanlah pencerahan padaku tentang Jalan Hidupku" Sang Pangeran meminta.
"Kata-kataku akan memudar laksana jejak kakimu di atas pasir", ujar Pertapa."Saya akan berikan petunjuk padamu, di Jalan Hidupmu engkau akan menemui 3 pintu.
Bacalah kata-kata yang tertulis di setiap pintu dan ikuti kata hatimu.
Sekarang pergilah sang Pertapa menghilang dan Pangeran melanjutkan perjalanannya. Segera ia menemukan sebuah pintu besar yang di atasnya tertulis kata "UBAHLAH DUNIA"
"Ini memang yang kuinginkan" pikir sang Pangeran. "Karena di dunia ini ada hal-hal yang aku sukai dan ada pula hal-hal yang tak kusukai. Aku akan mengubahnya agar sesuai keinginanku"
Maka mulailah ia memulai pertarungannya yang pertama, yaitu mengubah dunia. Ambisi, cita-cita dan kekuatannya membantunya dalam usaha menaklukkan dunia agar sesuai hasratnya. Ia mendapatkan banyak kesenangan dalam usahanya tetapi hatinya tidak merasa damai. Walau sebagian berhasil diubahnya tetapi sebagian lainnya menentangnya.
Tahun demi tahun berlalu. Suatu hari, ia bertemu sang Pertapa kembali.
"Apa yang engkau pelajari dari Jalanmu ?" Tanya sang Pertapa
"Aku belajar bagaimana membedakan apa yang dapat klakukan dengan kekuatanku dan apa yang di luar kemampuanku, apa yang tergantung padaku dan apa yang tidak tergantung padaku" jawab Pangeran
"Bagus! Gunakan kekuatanmu sesuai kemampuanmu. Lupakan apa yang diluar kekuatanmu, apa yang engkau tak sanggup mengubahnya" dan sang Pertapa menghilang.
Tak lama kemudian, sang Pangeran tiba di Pintu kedua yang bertuliskan "UBAHLAH SESAMAMU"
"Ini memang keinginanku" pikirnya. "Orang-orang di sekitarku adalah sumber kesenangan, kebahagiaan, tetapi mereka juga yang mendatangkan derita, kepahitan dan frustrasi"
Dan kemudian ia mencoba mengubah semua orang yang tak disukainya. Ia mencoba mengubah karakter mereka dan menghilangkan kelemahan mereka.
Ini menjadi pertarungannya yang kedua.
Tahun-tahun berlalu, kembali ia bertemu sang Pertapa.
"Apa yang engkau pelajari kali ini?"
"Saya belajar, bahwa mereka bukanlah sumber dari kegembiraan atau kedukaanku, keberhasilan atau kegagalanku. Mereka hanya memberikan kesempatan agar hal-hal tersebut dapat muncul. Sebenarnya di dalam dirikulah segala hal tersebut berakar"
"Engkau benar" Kata sang Pertapa. "Apa yang mereka bangkitkan dari dirimu, sebenarnya mereka mengenalkan engkau pada dirimu sendiri.
Bersyukurlah pada mereka yang telah membuatmu senang & bahagia dan bersyukur pula pada mereka yang menyebabkan derita dan frustrasi.
Karena melalui mereka lah, Kehidupan mengajarkanmu apa yang perlu engkau kuasai dan jalan apa yang harus kau tempuh"
Kembali sang Pertapa menghilang.
Kini Pangeran sampai ke pintu ketiga "UBAHLAH DIRIMU"
"Jika memang diriku sendiri lah sumber dari segala problemku, memang disanalah aku harus mengubahnya". Ia berkata pada dirinya sendiri.
Dan ia memulai pertarungannya yang ketiga. Ia mencoba mengubah karakternya sendiri, melawan ketidak sempurnaannya, menghilangkan kelemahannya, mengubah segala hal yg tak ia sukai dari dirinya, yang tak sesuai dengan gambaran ideal.
Setelah beberapa tahun berusaha, dimana sebagian ia berhasil dan sebagian lagi gagal dan ada hambatan, Pangeran bertemu sang Pertapa kembali.
"Kini apa yang engkau pelajari ?"
"Aku belajar bahwa ada hal-hal di dalam diriku yang bisa ditingkatkan dan ada yang tidak bisa saya ubah"
"Itu bagus" ujar sang pertapa. "Ya" lanjut Pangeran, "tapi saya mulai lelah untuk bertarung melawan dunia, melawan setiap orang dan melawan diri sendiri. Tidakkah ada akhir dari semuai ini ? Kapan saya bisa tenang ? Saya ingin berhenti bertarung, ingin menyerah, ingin meninggalkan semua ini !"
"Itu adalah pelajaranmu berikutnya" ujar Pertapa. Tapi sebelum itu, balikkan punggungmu dan lihatlah Jalan yang telah engkau tempuh".
Dan ia pun menghilang.
Ketika melihat ke belakang, ia memandang Pintu Ketiga dari kejauhan dan melihat adanya tulisan di bagian belakangnya yang berbunyi "TERIMALAH DIRIMU".
Pangeran terkejut karena tidak melihat tulisan ini ketika melalui pintu tsb.
"Ketika seorang mulai bertarung, maka ia mulai menjadi buta" katanya pada dirinya sendiri.
Ia juga melihat, bertebaran di atas tanah, semua yang ia campakkan, kekurangannya, bayangannya, ketakutannya. Ia mulai menyadari bagaimana mengenali mereka, menerimanya dan mencintainya apa adanya.
Ia belajar mencintai dirinya sendiri dan tidak lagi membandingkan dirinya dengan orang lain, tanpa mengadili, tanpa mencerca dirinya sendiri.
Ia bertemu sang Pertapa, dan berkata "Aku belajar, bahwa membenci dan menolak sebagian dari diriku sendiri sama saja dengan mengutuk untuk tidak pernah berdamai dengan diri sendiri. Aku belajar untuk menerima diriku seutuhnya, secara total dan tanpa syarat."
"Bagus, itu adalah Pintu Pertama Kebijaksanaan" , ujar Pertapa. "Sekarang engkau boleh kembali ke Pintu Kedua"
Segera ia mencapai Pintu Kedua, yang tertulis di sisi belakangnya "TERIMALAH SESAMAMU"
Ia bisa melihat orang-orang di sekitarnya, mereka yang ia suka dan cintai, serta mereka yang ia benci. Mereka yang mendukungnya, juga mereka yang melawannya.
Tetapi yang mengherankannya, ia tidak lagi bisa melihat ketidaksempurnaan mereka, kekurangan mereka. Apa yang sebelumnya membuat ia malu dan berusaha mengubahnya.
Ia bertemu sang Pertapa kembali, "Aku belajar" ujarnya "Bahwa dengan berdamai dengan diriku, aku tak punya sesuatupun untuk dipersalahkan pada orang lain, tak sesuatupun yg perlu ditakutkan dari merela. Aku belajar untuk menerima dan mencintai mereka, apa adanya.
"Itu adalah Pintu Kedua Kebijaksanaan" ujar sang Pertapa, "Sekarang pergilah ke Pintu Pertama"
Dan di belakang Pintu Pertama, ia melihat tulisan "TERIMALAH DUNIA"
"Sungguh aneh" ujarnya pada dirinya sendiri "Mengapa saya tidak melihatnya sebelumnya". Ia melihat sekitarnya dan mengenali dunia yang sebelumnya berusaha ia taklukan dan ia ubah.
Sekarang ia terpesona dengan betapa cerah dan indahnya dunia. Dengan kesempurnaannya.
Tetapi, ini adalah dunia yang sama, apakah memang dunia yang berubah atau cara pandangnya?
Kembali ia bertemu dengan sang Pertapa : "Apa yang engkau pelajari sekarang ?"
"Aku belajar bahwa dunia sebenarnya adalah cermin dari jiwaku. Bahwa Jiwaku tidak melihat dunia melainkan melihat dirinya sendiri di dalam dunia. Ketika jiwaku senang, maka dunia pun menjadi tempat yang menyenangkan. Ketika jiwaku muram, maka dunia pun kelihatannya muram.
Dunia sendiri tidaklah menyenangkan atau muram. Ia ADA, itu saja.
Bukanlah dunia yang membuatku terganggu, melainkan ide yang aku lihat mengenainya. Aku belajar untuk menerimanya tanpa menghakimi, menerima seutuhnya, tanpa syarat.
"Itu Pintu Ketiga Kebijaksanaan" ujar sang Pertapa. "Sekarang engkau berdamai dengan dirimu, sesamamu dan dunia" Sang pertapa pun menghilang.
Sang pangeran merasakan aliran yang menyejukkan dari kedamaian, ketentraman, yang berlimpah merasuki dirinya. Ia merasa hening dan damai.
sumber: Milis Cetivasi
Saturday, November 17, 2007
NONTON TV VIA INTERNET
Nah sekarang saya ingin berbagi info tentang bagaimana caranya nonton tv via internet di kantor anda. Kita mulai saja ya :
Pertama : pastikan computer anda sudah terinstal VLC Player (download aja disini#)
Kedua : setelah terinstal buka file > Open network streaming.
Ketiga : pilih http/https/ftp/mms.
Keempat : paste/ketik aja url dibawah ini
mms://202.171.25.216/transtv <<– TRANSTV
mms://202.171.25.216/metro <<– METRO TV
selamat mencoba
good luck
Pertama : pastikan computer anda sudah terinstal VLC Player (download aja disini#)
Kedua : setelah terinstal buka file > Open network streaming.
Ketiga : pilih http/https/ftp/mms.
Keempat : paste/ketik aja url dibawah ini
mms://202.171.25.216/transtv <<– TRANSTV
mms://202.171.25.216/metro <<– METRO TV
selamat mencoba
good luck
Monday, October 29, 2007
Selamat Hari Sumpah Pemuda
Selamat Hari Sumpah Pemuda Tanggal 28 Oktober 2007
SUMPAH PEMUDA
1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
2. Kami putra dan putri Indonesia bertanah air satu, tanah air indonesia
3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indoensia
SUMPAH PEMUDA
1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
2. Kami putra dan putri Indonesia bertanah air satu, tanah air indonesia
3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indoensia
Wednesday, October 17, 2007
Purusa-Pradana di Pura Dalem Penataran Peed
OM Svastyastu,
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/10/17/bd2.htm
Ya atmada balada yasya visva
upasate prasisam yasya devah
yasya chaya-amrtam yasya mrtyuh,
kasmani devaya havisa vidhema.
(Rgveda.X.121.2).
Maksudnya:
Tuhan Yang Maha Esa memberikan kekuatan spiritual (rohani) dan fisikal (jasmani). Semua sinar sucinya yang disebut Deva berfungsi atas kehendak Tuhan. Kasih-Nya adalah keabadian, krodanya adalah kematian. Kami semuanya mengaturkan sembah kepada-Nya.
PURA Dalem Penataran Peed di Nusa Penida itu adalah pura untuk memuja Tuhan Yang Mahakuasa sebagai pencipta Purusa dan Pradana. Purusa itu adalah kekuatan jiwa atau daya spiritualitas yang memberikan napas kehidupan pada alam dan segala isinya. Pradana adalah kekuatan fisik material atau daya jasmaniah yang mewujudkan secara nyata kekuatan Purusa tersebut.
Karena itu umat Hindu berbondong-bondong rajin bersembahyang ke Pura Dalem Penataran Peed untuk mendapatkan keseimbangan daya hidup, baik daya spiritual maupun daya fisikal. Karena hanya keseimbangan peran dan fungsi rohani dan jasmani itulah hidup yang harmonis di bumi ini dapat dicapai.
Pemujaan Tuhan sebagai pencipta unsur Purusa dan Pradana ini divisualkan dalam wujud pemujaan di Pura Dalem Penataran Peed. Visualisasi itu merupakan perpaduan konsepsi Hindu dengan kearipan lokal Bali. Di Pura Dalem Penataran Peed ini terdapat dua arca Purusa dan Predana dari uang kepeng yang disimpan di gedong penyimpenan sebagai pelinggih utama di Pura Dalem Penataran Peed. Arca Purusa Predana inilah yang memvisualisasikan kemahakuasaan Tuhan yang menciptakan waranugraha keseimbangan hidup spiritual (Purusa) dengan kehidupan fisik material (Predana).
Dalam Lontar Ratu Nusa diceritakan Batara Siwa menurunkan Dewi Uma dan berstana di Puncak Mundi Nusa Penida diiringi oleh para Bhuta Kala simbol kekuatan fisik material berupa ruang dan waktu. Bhuta itu membentuk ruang dan Kala adalah waktu. Waktu timbul karena ada dinamika ruang. Di Pura Puncak Mundi, Dewi Uma bergelar Dewi Rohini dan berputra Dalem Sahang. Pepatih Dalem Sahang bernama I Renggan dari Jambu Dwipa -- kompyang dari Dukuh Jumpungan.
Dukuh Jumpungan itu lahir dari pertemuan Batara Guru dengan Ni Mrenggi, dayang dari Dewi Uma. Kama dari Batara Guru berupa awan kabut yang disebut limun. Karena itu disebut Hyang Kalimunan. Kama Batara Guru ini di-urip oleh Hyang Tri Murti dan menjadi manusia. Setelah digembleng berbagai ilmu kerohanian dan kesidhian, dan oleh Hyang Tri Murti terus diberi nama Dukuh Jumpungan dan bertugas sebagai ahli pengobatan. Setelah turun-temurun Dukuh Jumpungan menurunkan I Gotra yang juga dikenal I Mecaling. Inilah yang selanjutnya disebut Ratu Gede Nusa.
Ratu Gede Nusa ini berpenampilan bagaikan Batara Kala. Menurut penafsiran Ida Pedanda Made Sidemen (alm) dari Geria Taman Sanur yang dimuat dalam buku hasil penelitian Sejarah Pura oleh Tim IHD Denpasar (sekarang Unhi) antara lain menyatakan sbb: saat Batara di Gunung Agung, Batukaru dan Batara di Rambut Siwi dari Jambu Dwipa ke Bali diiringi oleh seribu lima ratus (1.500) orang halus (wong samar).
Lima ratus wong samar itu dengan lima orang taksu menjadi pengiring Ratu Gede Nusa atas wara nugraha Batara di Gunung Agung. Batara di Gunung Agung memberi wara nugraha kepada Ratu Gede Nusa atas tapa brata-nya yang keras. Atas tapa brata itulah Batara di Gunung Agung memberi anugrah dan wewenang untuk mengambil upeti berupa korban manusia Bali yang tidak taat melakukan perbuatan baik dan benar sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.
Di Pura Dalem Penataran Peed ini Ida Batara Dalem Penataran Peed dipuja di Pelinggih Gedong, sedangkan Pelinggih Ratu Gede Nusa berada areal tersendiri di barat areal Pelinggih Dalem Penataran Peed. Pelinggih Dalem Penataran Peed ini berada di bagian timur, sedangkan Pelinggih Padmasana sebagai penyawangan Batara di Gunung Agung berada di bagian utara dalam areal Pura Dalem Penataran Peed. Di Pura Dalem Penataran Peed ini merupakan penyatuan antara pemujaan Batara Siwa di Gunung Agung dengan pemujaan Dewi Durgha atau Dewi Uma di Pura Puncak Mundi.
Dengan demikian Pura Dalem Penataran Peed itu sebagai Pemujaan Siwa Durgha dan Pemujaan Raja disebut Pura Dalem. Sedangkan disebut sebagai Pura Penataran Peed karena pura ini sebagai Penataran dari Pura Puncak Mundi pemujaan Batari Uma Durgha. Artinya, Pura Penataran Peed ini sebagai pengejawantahan yang aktif dari fungsi Pura Puncak Mundi pemujaan Batari Uma Durgha.
Di pura inilah bertemunya unsur Purusa dari Batara di Gunung Agung dengan Batari Uma Durgha di Puncak Mundi. Dari pertemuan dua unsur ciptaan Tuhan inilah yang akan melahirkan sarana kehidupan yang tiada habis-habisnya yang disebut Rambut Sedhana. Baik sarana hidup untuk memajukan kesejahteraan maupun sarana untuk mempertahankan kesehatan dan menghilangkan berbagai penyakit.
Upacara pujawali di Pura Dalem Penataran Peed ini dilangsungkan pada setiap Budha Cemeng Klawu. Hari Budha Cemeng Klawu ini adalah hari untuk mengingatkan umat Hindu pada hari keuangan yang disebut Pujawali Batari Rambut Sedhana. Pada hari ini umat Hindu diingatkan agar uang itu digunakan dengan baik dan setepat mungkin. Uang itu sebagai alat untuk mendapatkan berbagai sarana hidup agar digunakan dengan seimbang untuk menciptakan sarana kehidupan yang tiada habis-habisnya. Uang itu sebagai sarana menyukseskan tujuan hidup mewujudkan Dharma, Artha dan Kama sebagai dasar mencapai Moksha.
Berdasarkan adanya Pelinggih Manjangan Saluwang di sebelah barat Tugu Penyimpanan dapat diperkirakan bahwa Pura Dalem Penataran Peed ini sudah ada sejak Mpu Kuturan mendampingi Raja memimpin Bali. Pura ini mendapatkan perhatian saat Dalem Dukut memimpin di Nusa Penida dan dilanjutkan pada zaman kepemimpinan Dalem di Klungkung.
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/10/17/bd2.htm
Ya atmada balada yasya visva
upasate prasisam yasya devah
yasya chaya-amrtam yasya mrtyuh,
kasmani devaya havisa vidhema.
(Rgveda.X.121.2).
Maksudnya:
Tuhan Yang Maha Esa memberikan kekuatan spiritual (rohani) dan fisikal (jasmani). Semua sinar sucinya yang disebut Deva berfungsi atas kehendak Tuhan. Kasih-Nya adalah keabadian, krodanya adalah kematian. Kami semuanya mengaturkan sembah kepada-Nya.
PURA Dalem Penataran Peed di Nusa Penida itu adalah pura untuk memuja Tuhan Yang Mahakuasa sebagai pencipta Purusa dan Pradana. Purusa itu adalah kekuatan jiwa atau daya spiritualitas yang memberikan napas kehidupan pada alam dan segala isinya. Pradana adalah kekuatan fisik material atau daya jasmaniah yang mewujudkan secara nyata kekuatan Purusa tersebut.
Karena itu umat Hindu berbondong-bondong rajin bersembahyang ke Pura Dalem Penataran Peed untuk mendapatkan keseimbangan daya hidup, baik daya spiritual maupun daya fisikal. Karena hanya keseimbangan peran dan fungsi rohani dan jasmani itulah hidup yang harmonis di bumi ini dapat dicapai.
Pemujaan Tuhan sebagai pencipta unsur Purusa dan Pradana ini divisualkan dalam wujud pemujaan di Pura Dalem Penataran Peed. Visualisasi itu merupakan perpaduan konsepsi Hindu dengan kearipan lokal Bali. Di Pura Dalem Penataran Peed ini terdapat dua arca Purusa dan Predana dari uang kepeng yang disimpan di gedong penyimpenan sebagai pelinggih utama di Pura Dalem Penataran Peed. Arca Purusa Predana inilah yang memvisualisasikan kemahakuasaan Tuhan yang menciptakan waranugraha keseimbangan hidup spiritual (Purusa) dengan kehidupan fisik material (Predana).
Dalam Lontar Ratu Nusa diceritakan Batara Siwa menurunkan Dewi Uma dan berstana di Puncak Mundi Nusa Penida diiringi oleh para Bhuta Kala simbol kekuatan fisik material berupa ruang dan waktu. Bhuta itu membentuk ruang dan Kala adalah waktu. Waktu timbul karena ada dinamika ruang. Di Pura Puncak Mundi, Dewi Uma bergelar Dewi Rohini dan berputra Dalem Sahang. Pepatih Dalem Sahang bernama I Renggan dari Jambu Dwipa -- kompyang dari Dukuh Jumpungan.
Dukuh Jumpungan itu lahir dari pertemuan Batara Guru dengan Ni Mrenggi, dayang dari Dewi Uma. Kama dari Batara Guru berupa awan kabut yang disebut limun. Karena itu disebut Hyang Kalimunan. Kama Batara Guru ini di-urip oleh Hyang Tri Murti dan menjadi manusia. Setelah digembleng berbagai ilmu kerohanian dan kesidhian, dan oleh Hyang Tri Murti terus diberi nama Dukuh Jumpungan dan bertugas sebagai ahli pengobatan. Setelah turun-temurun Dukuh Jumpungan menurunkan I Gotra yang juga dikenal I Mecaling. Inilah yang selanjutnya disebut Ratu Gede Nusa.
Ratu Gede Nusa ini berpenampilan bagaikan Batara Kala. Menurut penafsiran Ida Pedanda Made Sidemen (alm) dari Geria Taman Sanur yang dimuat dalam buku hasil penelitian Sejarah Pura oleh Tim IHD Denpasar (sekarang Unhi) antara lain menyatakan sbb: saat Batara di Gunung Agung, Batukaru dan Batara di Rambut Siwi dari Jambu Dwipa ke Bali diiringi oleh seribu lima ratus (1.500) orang halus (wong samar).
Lima ratus wong samar itu dengan lima orang taksu menjadi pengiring Ratu Gede Nusa atas wara nugraha Batara di Gunung Agung. Batara di Gunung Agung memberi wara nugraha kepada Ratu Gede Nusa atas tapa brata-nya yang keras. Atas tapa brata itulah Batara di Gunung Agung memberi anugrah dan wewenang untuk mengambil upeti berupa korban manusia Bali yang tidak taat melakukan perbuatan baik dan benar sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.
Di Pura Dalem Penataran Peed ini Ida Batara Dalem Penataran Peed dipuja di Pelinggih Gedong, sedangkan Pelinggih Ratu Gede Nusa berada areal tersendiri di barat areal Pelinggih Dalem Penataran Peed. Pelinggih Dalem Penataran Peed ini berada di bagian timur, sedangkan Pelinggih Padmasana sebagai penyawangan Batara di Gunung Agung berada di bagian utara dalam areal Pura Dalem Penataran Peed. Di Pura Dalem Penataran Peed ini merupakan penyatuan antara pemujaan Batara Siwa di Gunung Agung dengan pemujaan Dewi Durgha atau Dewi Uma di Pura Puncak Mundi.
Dengan demikian Pura Dalem Penataran Peed itu sebagai Pemujaan Siwa Durgha dan Pemujaan Raja disebut Pura Dalem. Sedangkan disebut sebagai Pura Penataran Peed karena pura ini sebagai Penataran dari Pura Puncak Mundi pemujaan Batari Uma Durgha. Artinya, Pura Penataran Peed ini sebagai pengejawantahan yang aktif dari fungsi Pura Puncak Mundi pemujaan Batari Uma Durgha.
Di pura inilah bertemunya unsur Purusa dari Batara di Gunung Agung dengan Batari Uma Durgha di Puncak Mundi. Dari pertemuan dua unsur ciptaan Tuhan inilah yang akan melahirkan sarana kehidupan yang tiada habis-habisnya yang disebut Rambut Sedhana. Baik sarana hidup untuk memajukan kesejahteraan maupun sarana untuk mempertahankan kesehatan dan menghilangkan berbagai penyakit.
Upacara pujawali di Pura Dalem Penataran Peed ini dilangsungkan pada setiap Budha Cemeng Klawu. Hari Budha Cemeng Klawu ini adalah hari untuk mengingatkan umat Hindu pada hari keuangan yang disebut Pujawali Batari Rambut Sedhana. Pada hari ini umat Hindu diingatkan agar uang itu digunakan dengan baik dan setepat mungkin. Uang itu sebagai alat untuk mendapatkan berbagai sarana hidup agar digunakan dengan seimbang untuk menciptakan sarana kehidupan yang tiada habis-habisnya. Uang itu sebagai sarana menyukseskan tujuan hidup mewujudkan Dharma, Artha dan Kama sebagai dasar mencapai Moksha.
Berdasarkan adanya Pelinggih Manjangan Saluwang di sebelah barat Tugu Penyimpanan dapat diperkirakan bahwa Pura Dalem Penataran Peed ini sudah ada sejak Mpu Kuturan mendampingi Raja memimpin Bali. Pura ini mendapatkan perhatian saat Dalem Dukut memimpin di Nusa Penida dan dilanjutkan pada zaman kepemimpinan Dalem di Klungkung.
Monday, October 08, 2007
Wednesday, August 15, 2007
Tuesday, August 14, 2007
Friday, August 10, 2007
Cekcok Terus? Cermati Feng Shui Cinta Anda
Ilmu Fengshui memang bukan barang baru lagi. Banyak orang yang mendekorasi rumahnya dengan panduan ilmu asal Cina itu. Banyak orang percaya, jika Feng Shui sebuah rumah benar, maka banyak energi positif mengalir masuk dan memberikan kebahagiaan serta kesehatan bagi pemiliknya. Dilansir stvalentinesday, Kamis (3/5/2007), Feng Shui ternyata bisa mempengaruhi baik-buruknya hubungan dua sejoli.
- Jangan tidur menghadap pintu karena akan memicu banyak masalah dalam hubungan anda
- Bagian rumah yang paling mempengaruhi hubungan adalah bagian barat daya. Untuk membuat hubungan lebih harmonis, hias bagian rumah ini dengan batu-batuan atau kerikil.
- Gantung lukisan dengan gambar gunung yang juga memperlihatkan gambar air.
- Untuk yang masih jomblo, disarankan menggantung lukisan bunga peonies (bunga cinta asal Cina). Selain itu bisa juga menggantung lukisan atau foto-foto yang menggambarkan simbol lawan jenis.
- Kamar yang bersih, rapih, dan tidak banyak barang bisa mengalirkan energi positif pada pemiliknya. Jadi jangan tunda lagi program pembersihan kamar sekarang juga.
- Hindari berolahraga di kamar anda karena membuat kesan terjadi kerja keras di ruangan itu. Aura kurang baik tersebut dapat menjauhkan energi cinta.
- Pintu kamar anda harus mudah dibuka. Pintu kamar yang rusak atau berbunyi dapat menghalau energi cinta yang masuk ke ruangan.
- Hindari benda-benda yang bersifat menghalangi masuknya energi ke dalam ruangan. Lampu-lampu yang rusak sebaiknya segera diganti.
- Gantungkan gambar-gambar cinta seperti sepasang merpati atau cermin bundar. Elemen-elemen ini melambangkan cinta yang teguh dan setia. Letakkan gambar ini di dinding yang menghadap kaki anda ketika masuk ke dalam ruangan.
- Letakkan tempat tidur di tempat yang seimbang kanan dan kirinya. Sisi yang berat sebelah, lebih besar atau lebih kecil bisa membuat orang yang tidur pada sisi itu merasa lebih tidak berdaya.
- Jangan letakkan televisi di kamar tidur.
- Ventilasi yang baik juga penting untuk memperlancar energi positif yang masuk.
- Toilet yang terletak di arah barat daya ruangan akan membawa pengaruh kurang baik pada kehidupan cinta anda. Untuk menetralisir gantungkan gantungan berkaki lima yang berbunyi jika tertiup angin.
- Letakkan air mancur di dalam ruangan. Peletakkan air mancur ini dipercaya bisa memperkuat hubungan Anda.
- Jangan tidur menghadap pintu karena akan memicu banyak masalah dalam hubungan anda
- Bagian rumah yang paling mempengaruhi hubungan adalah bagian barat daya. Untuk membuat hubungan lebih harmonis, hias bagian rumah ini dengan batu-batuan atau kerikil.
- Gantung lukisan dengan gambar gunung yang juga memperlihatkan gambar air.
- Untuk yang masih jomblo, disarankan menggantung lukisan bunga peonies (bunga cinta asal Cina). Selain itu bisa juga menggantung lukisan atau foto-foto yang menggambarkan simbol lawan jenis.
- Kamar yang bersih, rapih, dan tidak banyak barang bisa mengalirkan energi positif pada pemiliknya. Jadi jangan tunda lagi program pembersihan kamar sekarang juga.
- Hindari berolahraga di kamar anda karena membuat kesan terjadi kerja keras di ruangan itu. Aura kurang baik tersebut dapat menjauhkan energi cinta.
- Pintu kamar anda harus mudah dibuka. Pintu kamar yang rusak atau berbunyi dapat menghalau energi cinta yang masuk ke ruangan.
- Hindari benda-benda yang bersifat menghalangi masuknya energi ke dalam ruangan. Lampu-lampu yang rusak sebaiknya segera diganti.
- Gantungkan gambar-gambar cinta seperti sepasang merpati atau cermin bundar. Elemen-elemen ini melambangkan cinta yang teguh dan setia. Letakkan gambar ini di dinding yang menghadap kaki anda ketika masuk ke dalam ruangan.
- Letakkan tempat tidur di tempat yang seimbang kanan dan kirinya. Sisi yang berat sebelah, lebih besar atau lebih kecil bisa membuat orang yang tidur pada sisi itu merasa lebih tidak berdaya.
- Jangan letakkan televisi di kamar tidur.
- Ventilasi yang baik juga penting untuk memperlancar energi positif yang masuk.
- Toilet yang terletak di arah barat daya ruangan akan membawa pengaruh kurang baik pada kehidupan cinta anda. Untuk menetralisir gantungkan gantungan berkaki lima yang berbunyi jika tertiup angin.
- Letakkan air mancur di dalam ruangan. Peletakkan air mancur ini dipercaya bisa memperkuat hubungan Anda.
Thursday, August 09, 2007
Thursday, July 26, 2007
Wednesday, July 25, 2007
Friday, July 20, 2007
Friday, June 29, 2007
Tuesday, June 19, 2007
Menjelang Hari Persalinan
Om Swastyastu, Hari - hari menjelang persalinan istriku, terasa sangat dekat
menurut perkiraan Dokter Sarmadi di rumah sakit Bunda Setia
hari kelahiran bayiku adalah antara tanggal 22 s/d 24 Juni 2007 ini
tetapi ada satu hal yang masih menghawatirkan adalah posisi janin
yang akan lahir tersebut masih dalam posisi sungsang tidak seperti posisi
bayi lahir normal pada umumnya, dan hasil USG pada tanggal 19 Juni 2007
juga menyatakan bahwa posisi bayi dalam rahim masih sungsang sehingga
bisa saja akan dilahirkan melalui operasi sesar. Tetapi dalam hal ini
pihak Rumah sakit akan berusaha untuk bisa lahir normal. Terima kasih
atas tindakan Dokter Sarmadi di rumah sakit bunda setia denpasar. sekarang
sudah H min 3 menjelang hari kelahiran bayiku tercinta.
Om Santih, Santih, Santih Om
menurut perkiraan Dokter Sarmadi di rumah sakit Bunda Setia
hari kelahiran bayiku adalah antara tanggal 22 s/d 24 Juni 2007 ini
tetapi ada satu hal yang masih menghawatirkan adalah posisi janin
yang akan lahir tersebut masih dalam posisi sungsang tidak seperti posisi
bayi lahir normal pada umumnya, dan hasil USG pada tanggal 19 Juni 2007
juga menyatakan bahwa posisi bayi dalam rahim masih sungsang sehingga
bisa saja akan dilahirkan melalui operasi sesar. Tetapi dalam hal ini
pihak Rumah sakit akan berusaha untuk bisa lahir normal. Terima kasih
atas tindakan Dokter Sarmadi di rumah sakit bunda setia denpasar. sekarang
sudah H min 3 menjelang hari kelahiran bayiku tercinta.
Om Santih, Santih, Santih Om
Wednesday, June 06, 2007
Monday, April 02, 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)






